Palangka Raya, Mediadigitalupdate.com – Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Palangka Raya mengakui masih menghadapi keterbatasan serius dalam layanan rehabilitasi penyalahguna narkotika sepanjang tahun 2025. Hingga kini, pelaksanaan rehabilitasi masih sangat bergantung pada jejaring lembaga eksternal, terutama lembaga rehabilitasi swasta dan fasilitas kesehatan tingkat puskesmas.
Kepala BNN Kota Palangka Raya Kombes Pol I Wayan Korna mengatakan, keterbatasan fasilitas, khususnya layanan rawat inap, membuat BNN Kota Palangka Raya belum mampu melaksanakan rehabilitasi secara mandiri. “BNN Kota Palangka Raya hanya mampu melaksanakan rehabilitasi rawat jalan. Untuk rawat inap dan penanganan lanjutan, kami masih sangat bergantung pada jejaring,” ujarnya saat rilis akhir tahun kepada puluhan awak media, Senin (29/12/2025).
Sepanjang 2025, lembaga rehabilitasi yang paling banyak menangani klien rehabilitasi adalah Yayasan Galilea dengan total 76 klien. Sementara itu, kontribusi fasilitas kesehatan pemerintah dinilai masih sangat minim. “Puskesmas Pahandut menangani satu klien, Puskesmas Panarung satu klien, sedangkan Puskesmas Menteng sampai saat ini belum operasional untuk layanan rehabilitasi,” jelas Wayan.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa beban rehabilitasi narkotika di Kota Palangka Raya masih banyak ditopang oleh lembaga swasta, sementara kesiapan fasilitas pemerintah belum optimal. “Ini realita yang harus kita akui. Ketergantungan ini juga berisiko, karena apabila jejaring tidak siap, maka akses rehabilitasi bisa terhambat,” katanya.
Ia menegaskan, idealnya layanan rehabilitasi narkotika harus didukung fasilitas pemerintah yang kuat dan merata agar masyarakat tidak bergantung pada pilihan layanan yang terbatas. Meski demikian, Wayan tetap mengapresiasi peran mitra rehabilitasi yang selama ini membantu menutup celah layanan.
Selain rehabilitasi, BNN Kota Palangka Raya juga terus menggeser fokus penanganan narkoba dari semata penindakan ke upaya pencegahan berbasis komunitas. Sepanjang 2025, sekolah dan lingkungan masyarakat dijadikan garda terdepan untuk memutus mata rantai penyalahgunaan narkotika sejak dini. “Pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan penindakan hukum. Edukasi yang masif dan kehadiran langsung di tengah masyarakat jauh lebih efektif,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, BNN membentuk grup komunikasi seluruh kepala sekolah SD dan SMP di Kota Palangka Raya guna mendorong edukasi anti narkoba secara berkelanjutan. Selain itu, BNN juga memanfaatkan radio, televisi, podcast, serta media online untuk menjangkau generasi muda.
BNN turut aktif masuk ke komunitas dan kelurahan rawan narkoba melalui pendekatan persuasif dan program pemberdayaan masyarakat. Kelurahan Pahandut dan Kampung Ponton menjadi fokus utama dengan program penguatan ekonomi serta pelatihan keterampilan hidup (life skill). “Kalau masyarakat punya kegiatan dan penghasilan, potensi kembali ke narkoba bisa ditekan. Itu yang terus kita dorong,” pungkas Wayan.(kaer)
Penulis : Karina
Editor : Noor Ivansyah
